Kapan perlu beranjak dari layar tidak bisa dijawab hanya dengan satu hitungan jam. Yang lebih berguna ialah menilai tujuan penggunaan, kapan layar mengambil tempat, dan apakah rutinitas itu menggeser hal yang ingin dijaga. AFK888 membahas jeda digital sebagai cara mengevaluasi kebiasaan, bukan ajakan menyamakan kerja, komunikasi, belajar, dan hiburan.
Jeda digital bukan berarti semua aktivitas online sama
Detoks digital, atau waktu tanpa digital, merujuk pada kurun ketika seseorang secara sukarela menahan diri dari perangkat digital seperti telepon pintar, komputer, dan media sosial [1]. Untuk menilai rutinitas sehari-hari, definisi luas ini bisa menjadi titik awal—bukan aturan bahwa semua akses harus dihentikan. Seseorang, misalnya, dapat membedakan sesi kerja daring yang memang perlu dari kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan tertentu.
Pembedaan itu membantu mengarahkan pertanyaan: bagian mana dari penggunaan layar yang ingin dikurangi, dan apa yang hendak diberi ruang? Sumber mencantumkan fokus pada interaksi sosial luring, perhatian, serta pengurangan gangguan dan multitugas saat belajar sebagai beberapa dorongan untuk mencoba detoks digital [1]. Itu adalah alasan yang dapat dipertimbangkan, bukan jaminan bahwa jeda akan menghasilkan dampak tertentu bagi semua orang.
Perhatikan waktu, keluhan, dan tujuan penggunaan
Waktu menjelang tidur bisa menjadi salah satu bagian rutinitas yang layak ditinjau. Tinjauan Deloitte pada 2015 mencatat sekitar 59% pengguna telepon pintar memeriksa media sosial lima menit sebelum tidur dan dalam 30 menit setelah bangun [1]. Angka tersebut menggambarkan temuan tinjauan itu, bukan patokan yang harus diikuti atau ukuran kebiasaan setiap orang.
Sumber juga merangkum penelitian tentang penggunaan perangkat layar saat tidur: cahaya dari layar dapat menekan produksi melatonin, hormon yang berperan mengatur durasi dan sifat siklus tidur [1]. Sementara itu, penggunaan teknologi yang berlebihan disebut dapat mengurangi kualitas tidur, menyebabkan ketegangan mata, serta meningkatkan terjadinya sakit kepala migrain [1]. Keluhan semacam itu bukan bukti bahwa layar pasti menjadi penyebabnya, tetapi dapat menjadi alasan untuk memeriksa kapan dan bagaimana perangkat digunakan.
Tujuan pemakaian pun penting. Jika layar diperlukan untuk menyelesaikan tugas, jeda mungkin lebih cocok ditempatkan di antara sesi daripada dengan meniadakan akses sepenuhnya. Jika yang ingin dikurangi adalah kebiasaan memeriksa media sosial, batas khusus di sekitar waktu tidur bisa menjadi percobaan yang lebih terarah. Pilihannya bergantung pada pola yang ingin diubah.
Membuat batas yang bisa dievaluasi
Tentukan bagian rutinitas yang ingin diperiksa: penggunaan untuk tugas, komunikasi, hiburan, atau kebiasaan membuka aplikasi tanpa rencana.
Pilih satu batas yang jelas, seperti menunda media sosial menjelang tidur atau memberi jeda di antara sesi hiburan. Batas ini merupakan pilihan pribadi, bukan angka universal.
Setelah mencobanya, nilai apakah batas tersebut realistis dan apakah waktu yang dijeda memang kembali ke kegiatan yang ingin diprioritaskan. Jika tidak cocok, ubah batasnya, bukan sekadar menambah aturan.
Jadi, pertanyaan "kapan perlu beranjak dari layar?" lebih berguna jika dijawab dengan melihat tujuan dan pola, bukan menyalahkan semua aktivitas digital secara seragam. Jeda yang terarah memberi cara untuk menilai kebiasaan online tanpa menganggap setiap jam di depan layar memiliki fungsi yang sama.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Detoks digital. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29811491&title=Detoks_digital (diakses 2026-10-02).